Ia adalah salah satu sistem kecerdasan buatan generatif yang di kembangkan oleh Microsoft. Dan juga kini menjadi sorotan dalam isu etika dan hukum pelatihan mereka. Terlebih sistem ini di rancang untuk mampu menghasilkan beragam jenis konten. Mulai dari teks, musik, gambar, hingga video. Serta hal ini berdasarkan perintah pengguna. Serta yang mirip dengan platformnya generatif lain seperti ChatGPT atau DALL·E. Kemampuannya yang luas dan canggih membuat hal ini menjadi bagian dari kompetisi teknologi tingkat tinggi di antara raksasa. Contohnya seperti Microsoft, Google, Meta, dan lainnya. Namun, di balik inovasinya, sistem satu ini justru menjadi pusat gugatan hukum. Karena yang menyoroti ironi dalam cara kecerdasaan buatan modern di kembangkan. Salah satu inti persoalan terkaitnya adalah penggunaan data pelatihan yang di duga berasal dari sumber ilegal.
Terutama kumpulan buku digital bajakan yang termasuk dalam dataset kontroversial bernama Books3. Dataset ini di ketahui mengandung ratusan ribu buku yang di unggah tanpa izin ke internet. Dan juga kemudian di manfaatkan oleh berbagai pengembangnya. Terlebih termasuk oleh Microsoft dalam pelatihan sistem ini. Kemudian juga gugatan yang di ajukan oleh para penulis menyebut bahwa sistem ini di bangun dengan “membaca dan meniru”. Tepatnya karya mereka secara besar-besaran, tanpa adanya persetujuan atau kompensasi. Mereka menilai tindakan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak cipta. Keberadaannya juga mencerminkan persoalan besar dalam dunia kecerdasan buatan saat ini. Kemudian di anggap perlombaan membangunnya lebih canggih seringkali mengabaikan batasan etika dan hukum. Dalam konteks ini, ia bukan hanya simbol kemajuan teknologi. Namun juga cerminan bagaimana eksploitasi konten kreatif bisa di lakukan secara sistematis di bawah nama “pengembangan teknologi.”
Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan
Selain itu, masih menguak Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan. Dan fakta lainnya adalah:
Sebelumnya Sudah Ada Preseden Hukum
Sebelum gugatan terhadap Microsoft mencuat dalam kasus pelatihan AI dengan buku bajakan. Namun sebenarnya sudah ada beberapa preseden hukum penting yang menggambarkan bagaimana dunia hukum mulai merespons praktik penggunaan materi. Terlebih yang berhak cipta dalam pengembangan kecerdasan buatan. Preseden ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang hak cipta dalam konteks pelatihan ini bukan hal baru. Akan tetapi melainkan telah menjadi sengketa global yang terus berkembang. Serta dengan sejumlah putusan awal yang membentuk arah hukum di masa depan. Salah satu preseden yang paling mencolok adalah gugatan terhadap perusahaan Anthropic. Tentunya salah satu pengembangnya generatif yang juga menggunakan dataset besar. Kemudian yang berisi materi berhak cipta. Dalam kasus ini, pengadilan di California akhirnya memutuskan bahwa perusahaan tersebut bertanggung jawab atas penggunaan konten dari buku tanpa izin.
Tepatnya sebagai bagian dari pelatihan model ini. Putusan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya pengadilan di Amerika Serikat mengakui bahwa pelatihan ini dengan materi berhak cipta tanpa izin. Serta bisa menimbulkan konsekuensi hukum nyata. Ini memberi harapan bagi para penulis, penerbit. Dan juga pemilik hak cipta bahwa hak mereka tetap berlaku dalam konteks teknologi tinggi sekalipun. Namun, dalam kasus yang hampir bersamaan, gugatan terhadap Meta berakhir dengan hasil berbeda. Meskipun Meta juga di tuduh melakukan pelanggaran serupa. Namun hakim memutuskan bahwa gugatan tidak dapat di lanjutkan. Dan bukan karena Meta di anggap benar. Akan tetapi karena argumen hukum dari pihak penggugat di anggap lemah secara teknis dan kurang mendalam dalam pembuktian pelanggaran. Putusan ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengakuan terhadap potensi pelanggaran. Kemudian pengadilan tetap mengutamakan kekuatan argumen hukum dan bukti di sampaikan dalam gugatan.
Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan Yang Semakin Mengkhawatirkan
Selanjutnya juga masih ada fakta Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan Yang Semakin Mengkhawatirkan. Dan fakta lainnya adalah:
Tren Gugatan Hak Cipta AI Meningkat
Hal ini menunjukkan peningkatan yang tajam dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih seiring dengan semakin luas dan intensifnya penggunaan karya berhak cipta. Tentunya seperti buku, artikel, musik, dan gambar untuk melatih sistem AI generatif. Fenomena ini menjadi salah satu ironi besar dalam perkembangan teknologi: di saat AI di sebut-sebut sebagai inovasi masa depan yang luar biasa. Kemudian sistem-sistem tersebut justru di bangun dengan “mencerna” konten kreatif milik manusia tanpa izin. Gugatan-gugatan yang bermunculan dari para penulis, jurnalis, seniman. Serta hingga perusahaan media besar mencerminkan keresahan kolektif bahwa ia tengah melanggar prinsip keadilan.
Dan juga hak kekayaan intelektual. Sejumlah kasus profil tinggi telah menandai tren ini. Salah satunya adalah gugatan yang di ajukan oleh The New York Times terhadap OpenAI dan Microsoft. Terlebihnya dengan tuduhan bahwa arsip berita mereka di gunakan tanpa izin untuk melatih model AI seperti ChatGPT. Kemudian gugatan ini menyoroti bahwa bukan hanya penulis individual yang merasa di rugikan. Akan tetapi juga institusi media besar yang melihat teknologi AI sebagai ancaman terhadap nilai ekonomi. Kemudian juga eksklusivitas konten mereka. Tak lama kemudian, gugatan serupa juga di layangkan oleh News Corp. Serta yang menaungi media besar seperti The Wall Street Journal dan The Times.
Jadi itu dia fakta buruk dari jutaan buku musnah demi algoritma dari Sisi Gelap AI.