Sisi Gelap AI: Jutaan Buku Musnah Demi Algoritma

Sisi Gelap AI: Jutaan Buku Musnah Demi Algoritma

Sisi Gelap AI: Jutaan Buku Musnah Demi Algoritma Yang Kian Mengkhawatirkan Akibat Dari Teknologi Kecerdasaan Ini. Halo para penjelajah dunia digital dan pegiat literasi! Di tengah euforia dan janji-janji manis Kecerdasan Buatan (AI) yang terus berkembang. Namun pernahkah terlintas di benak kita, ada harga yang harus di bayar mahal? Tentu ada sebuah ironi pahit kini terkuak: demi melatih algoritmanya yang semakin canggih. Dengan jutaan buku. Ya, jutaan karya tulis yang merupakan jendela peradaban dan gudang ilmu pengetahuan. Terlebih yang di laporkan telah “di musnahkan” atau di manfaatkan sedemikian rupa tanpa persetujuan eksplisit. Bahkan tanpa kompensasi layak bagi para penulisnya. Ini bukan sekadar soal data; ini tentang warisan intelektual, hak cipta. Dan juga masa depan kreativitas manusia. Bagaimana mungkin kita membangun kecerdasan tanpa menghargai fondasinya? Sisi Gelap AI ini mempertanyakan etika di balik kemajuan teknologi. Kemudian mendesak kita untuk berpikir ulang.

Mengenai ulasan tentang Sisi Gelap AI: jutaan buku musnah demi algoritma telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.

Gugatan Terhadap Microsoft

Hal terkait ini dalam penggunaan jutaan buku bajakan. Tentunya untuk melatih kecerdasan buatan mencerminkan paradoks besar dalam perkembangan teknologi. Di satu sisi, kecerdasaan buatan seperti Megatron yang di kembangkan Microsoft. Karena mampu menghasilkan konten teks, gambar, musik, hingga video. Serta yang tampak sebagai simbol kemajuan luar biasa. Namun di sisi lain, kemampuannya tersebut ternyata di bangun di atas fondasi yang di anggap melanggar hak cipta ribuan penulis. Gugatan ini di ajukan oleh sekelompok penulis terkemuka di Amerika Serikat. Tentunya termasuk peraih Pulitzer dan kontributor media besar. Serta yang mendapati karya-karyanya di salin. Dan juga di manfaatkan tanpa izin untuk kebutuhan pelatihan sistem ini. Para penggugat menuduh Microsoft telah menggunakan kumpulan besar buku digital bajakan. Kemudian di perkirakan mencapai 200.000 judul. Terlebih juga hal ini yang berasal dari dataset ilegal bernama Books3.

Sisi Gelap AI: Jutaan Buku Musnah Demi Algoritma Yang Langgar Ketentuan

Kemudian juga masih ada Sisi Gelap AI: Jutaan Buku Musnah Demi Algoritma Yang Langgar Ketentuan. Dan fakta buruk lainnya adalah:

Megatron Artificial Intelligence

Ia adalah salah satu sistem kecerdasan buatan generatif yang di kembangkan oleh Microsoft. Dan juga kini menjadi sorotan dalam isu etika dan hukum pelatihan mereka. Terlebih sistem ini di rancang untuk mampu menghasilkan beragam jenis konten. Mulai dari teks, musik, gambar, hingga video. Serta hal ini berdasarkan perintah pengguna. Serta yang mirip dengan platformnya generatif lain seperti ChatGPT atau DALL·E. Kemampuannya yang luas dan canggih membuat hal ini menjadi bagian dari kompetisi teknologi tingkat tinggi di antara raksasa. Contohnya seperti Microsoft, Google, Meta, dan lainnya. Namun, di balik inovasinya, sistem satu ini justru menjadi pusat gugatan hukum. Karena yang menyoroti ironi dalam cara kecerdasaan buatan modern di kembangkan. Salah satu inti persoalan terkaitnya adalah penggunaan data pelatihan yang di duga berasal dari sumber ilegal.

Terutama kumpulan buku digital bajakan yang termasuk dalam dataset kontroversial bernama Books3. Dataset ini di ketahui mengandung ratusan ribu buku yang di unggah tanpa izin ke internet. Dan juga kemudian di manfaatkan oleh berbagai pengembangnya. Terlebih termasuk oleh Microsoft dalam pelatihan sistem ini. Kemudian juga gugatan yang di ajukan oleh para penulis menyebut bahwa sistem ini di bangun dengan “membaca dan meniru”. Tepatnya  karya mereka secara besar-besaran, tanpa adanya persetujuan atau kompensasi. Mereka menilai tindakan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak cipta. Keberadaannya juga mencerminkan persoalan besar dalam dunia kecerdasan buatan saat ini. Kemudian di anggap perlombaan membangunnya lebih canggih seringkali mengabaikan batasan etika dan hukum. Dalam konteks ini, ia bukan hanya simbol kemajuan teknologi. Namun juga cerminan bagaimana eksploitasi konten kreatif bisa di lakukan secara sistematis di bawah nama “pengembangan teknologi.”

Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan

Selain itu, masih menguak Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan. Dan fakta lainnya adalah:

Sebelumnya Sudah Ada Preseden Hukum

Sebelum gugatan terhadap Microsoft mencuat dalam kasus pelatihan AI dengan buku bajakan. Namun sebenarnya sudah ada beberapa preseden hukum penting yang menggambarkan bagaimana dunia hukum mulai merespons praktik penggunaan materi. Terlebih yang berhak cipta dalam pengembangan kecerdasan buatan. Preseden ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang hak cipta dalam konteks pelatihan ini bukan hal baru. Akan tetapi melainkan telah menjadi sengketa global yang terus berkembang. Serta dengan sejumlah putusan awal yang membentuk arah hukum di masa depan. Salah satu preseden yang paling mencolok adalah gugatan terhadap perusahaan Anthropic. Tentunya salah satu pengembangnya generatif yang juga menggunakan dataset besar. Kemudian yang berisi materi berhak cipta. Dalam kasus ini, pengadilan di California akhirnya memutuskan bahwa perusahaan tersebut bertanggung jawab atas penggunaan konten dari buku tanpa izin.

Tepatnya sebagai bagian dari pelatihan model ini. Putusan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya pengadilan di Amerika Serikat mengakui bahwa pelatihan ini dengan materi berhak cipta tanpa izin. Serta bisa menimbulkan konsekuensi hukum nyata. Ini memberi harapan bagi para penulis, penerbit. Dan juga pemilik hak cipta bahwa hak mereka tetap berlaku dalam konteks teknologi tinggi sekalipun. Namun, dalam kasus yang hampir bersamaan, gugatan terhadap Meta berakhir dengan hasil berbeda. Meskipun Meta juga di tuduh melakukan pelanggaran serupa. Namun hakim memutuskan bahwa gugatan tidak dapat di lanjutkan. Dan bukan karena Meta di anggap benar. Akan tetapi karena argumen hukum dari pihak penggugat di anggap lemah secara teknis dan kurang mendalam dalam pembuktian pelanggaran. Putusan ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengakuan terhadap potensi pelanggaran. Kemudian pengadilan tetap mengutamakan kekuatan argumen hukum dan bukti di sampaikan dalam gugatan.

Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan Yang Semakin Mengkhawatirkan

Selanjutnya juga masih ada fakta Artificial Intelligence Makan Banyak Terbitan: Ironi Di Balik Pelatihan Yang Semakin Mengkhawatirkan. Dan fakta lainnya adalah:

Tren Gugatan Hak Cipta AI Meningkat

Hal ini menunjukkan peningkatan yang tajam dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih seiring dengan semakin luas dan intensifnya penggunaan karya berhak cipta. Tentunya seperti buku, artikel, musik, dan gambar untuk melatih sistem AI generatif. Fenomena ini menjadi salah satu ironi besar dalam perkembangan teknologi: di saat AI di sebut-sebut sebagai inovasi masa depan yang luar biasa. Kemudian sistem-sistem tersebut justru di bangun dengan “mencerna” konten kreatif milik manusia tanpa izin. Gugatan-gugatan yang bermunculan dari para penulis, jurnalis, seniman. Serta hingga perusahaan media besar mencerminkan keresahan kolektif bahwa ia tengah melanggar prinsip keadilan.

Dan juga hak kekayaan intelektual. Sejumlah kasus profil tinggi telah menandai tren ini. Salah satunya adalah gugatan yang di ajukan oleh The New York Times terhadap OpenAI dan Microsoft. Terlebihnya dengan tuduhan bahwa arsip berita mereka di gunakan tanpa izin untuk melatih model AI seperti ChatGPT. Kemudian gugatan ini menyoroti bahwa bukan hanya penulis individual yang merasa di rugikan. Akan tetapi juga institusi media besar yang melihat teknologi AI sebagai ancaman terhadap nilai ekonomi. Kemudian juga eksklusivitas konten mereka. Tak lama kemudian, gugatan serupa juga di layangkan oleh News Corp. Serta yang menaungi media besar seperti The Wall Street Journal dan The Times.

Jadi itu dia fakta buruk dari jutaan buku musnah demi algoritma dari Sisi Gelap AI.