Harga Emas Pecah Rekor US$ 4.600: Gejolak Politik AS

Harga Emas Pecah Rekor US$ 4.600: Gejolak Politik AS

Harga Emas Pecah Rekor, Senin, 12 Januari 2026 Menembus Level Tertinggi Sepanjang Sejarah Di Angka US$ 4.600 Per Ons Troi. Rekor baru ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Para investor kini berbondong-bondong mengalihkan modal mereka ke aset aman atau safe haven untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Gejolak di pasar keuangan serta perubahan arah kebijakan moneter menjadi pendorong utama di balik meroketnya permintaan logam mulia ini. Selain emas, perak juga terpantau mengikuti tren kenaikan yang signifikan di tengah menurunnya kepercayaan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat.

Melansir laporan Reuters, faktor utama yang memicu kenaikan Harga Emas adalah ketegangan terbuka antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah muncul laporan mengenai penyelidikan pidana yang di luncurkan pemerintah AS terhadap pemimpin bank sentral tersebut. Situasi politik yang memanas ini secara langsung mengancam independensi The Fed yang selama ini menjadi pilar stabilitas ekonomi global.

Selain faktor internal Amerika Serikat, suhu geopolitik internasional yang semakin mendidih turut menyiram bensin ke api kenaikan harga komoditas. Presiden Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran menyusul tindakan keras pemerintah setempat terhadap aksi protes besar di sana. Langkah agresif ini terjadi setelah keberhasilan AS dalam menggulingkan kepemimpinan di Venezuela serta rencana ambisius akuisisi wilayah Greenland.

Kejutan tidak hanya datang dari emas, karena harga perak juga berhasil mencetak rekor baru di level US$ 84,60 per troi ons pada hari yang sama. Zain Vawda memprediksi bahwa kenaikan harga perak masih memiliki ruang gerak yang sangat luas, bahkan berpotensi menyentuh angka US$ 100. Hal ini di dorong oleh semakin sempitnya rasio Harga Emas terhadap perak yang biasanya menjadi sinyal kuat terjadinya lonjakan harga perak secara persentase.

Harga Emas Bagi Pasar Keuangan Global

Ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed kini telah memasuki babak yang sangat personal dan berbahaya. Presiden Donald Trump secara terbuka menunjukkan ketidaksenangannya terhadap kebijakan suku bunga Jerome Powell. Namun, kali ini bukan sekadar adu argumen di media sosial.

Pemerintahan Trump melalui Departemen Kehakiman (DoJ) resmi meluncurkan penyelidikan pidana terhadap Powell. Fokus utamanya adalah kesaksian Powell di hadapan Senat pada Juni tahun lalu terkait proyek renovasi gedung The Fed senilai $2,5 miliar. Trump menuduh adanya “ketidakmampuan berat” dan indikasi kebohongan publik mengenai biaya proyek tersebut.

Banyak pihak menilai investigasi ini hanyalah alat politik. Powell sendiri menegaskan bahwa tuduhan tersebut adalah upaya untuk menggoyang independensi bank sentral. Ia meyakini tekanan hukum ini muncul karena The Fed menolak permintaan Trump untuk memangkas suku bunga secara drastis guna memacu ekonomi.

Situasi ini menciptakan preseden yang mencemaskan Harga Emas Bagi Pasar Keuangan Global. Berikut adalah dampak nyata yang mulai di rasakan:

  • Runtuhnya Kepercayaan Dolar: Indeks Dolar AS (DXY) merosot tajam karena investor khawatir bank sentral kehilangan taringnya.
  • Risiko Negara Berkembang: AS yang biasanya stabil kini mulai menunjukkan volatilitas politik layaknya negara berkembang.
  • Pencarian Pengganti: Di tengah konflik, Trump dikabarkan sudah menyiapkan nama calon ketua baru seperti Kevin Hassett atau Kevin Warsh untuk diumumkan pada Januari 2026.

Berbeda dengan perselisihan tahun-tahun sebelumnya, langkah memidanakan seorang Ketua The Fed adalah “garis merah” yang belum pernah dilewati. Jika independensi The Fed runtuh, keputusan ekonomi tidak lagi berdasarkan data objektif, melainkan keinginan politik sesaat. Ketidakpastian hukum inilah yang menjadi alasan utama mengapa harga emas meroket hingga menembus US$ 4.600, karena investor tidak lagi mempercayai sistem keuangan tradisional Amerika.

Berada Dalam Titik Didih Geopolitik Yang Luar Biasa

Dunia saat ini sedang Berada Dalam Titik Didih Geopolitik Yang Luar Biasa. Ketegangan tidak lagi hanya terjadi di sektor ekonomi, tetapi sudah merambah ke potensi konflik fisik di berbagai belahan dunia. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa investor berbondong-bondong mengamankan kekayaan mereka ke dalam aset emas.

Fokus utama dunia saat ini tertuju pada Iran. Gelombang protes besar-besaran yang melanda negara tersebut di respons dengan tindakan keras oleh pemerintah setempat. Namun, intervensi Presiden Trump yang mengancam akan menggunakan kekuatan militer telah mengubah krisis domestik menjadi kekhawatiran global.

Trump secara eksplisit menyatakan bahwa “semua opsi ada di meja,” termasuk serangan udara strategis. Jika ketegangan ini pecah menjadi perang terbuka, jalur perdagangan minyak dunia akan terganggu. Hal ini otomatis memicu inflasi global dan membuat harga emas makin melambung tinggi.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump di anggap semakin agresif dan tidak terduga. Keberhasilan AS dalam menggulingkan rezim Nicolas Maduro di Venezuela menjadi bukti nyata kekuatan pengaruh Washington. Namun, langkah ini juga menciptakan polarisasi yang tajam dengan blok Rusia dan China.

Tak berhenti di situ, ambisi AS untuk mengakuisisi Greenland kembali mencuat ke permukaan. Langkah ini bukan sekadar soal perluasan wilayah, melainkan perebutan akses sumber daya alam dan jalur pelayaran baru di Kutub Utara. Dominasi atas Greenland dianggap strategis untuk menghadapi kekuatan militer lawan di masa depan.

Saat peta politik dunia berubah secara radikal, mata uang kertas (fiat) menjadi sangat rentan. Emas dianggap sebagai satu-satunya “mata uang jujur” yang tidak bisa di cetak oleh pemerintah manapun.

Perak Mulai Keluar Dari Bayang-bayang Emas

Bukan hanya emas yang menjadi primadona, perak pun ikut unjuk gigi dalam reli pasar komoditas saat ini. Harga perak dunia sukses menembus rekor baru di level US$ 84,60 per ons troi. Lonjakan ini mencerminkan fenomena unik di pasar logam mulia, di mana Perak Mulai Keluar Dari Bayang-bayang Emas.

Zain Vawda, analis dari MarketPulse by Oanda, menekankan bahwa prospek kenaikan perak masih sangat terbuka lebar. Ada beberapa faktor fundamental yang mendorong logam putih ini terbang lebih tinggi daripada biasanya.

Berbeda dengan emas, perak memiliki fungsi ganda sebagai aset investasi sekaligus bahan baku industri vital. Saat ini, dunia sedang menghadapi tekanan pasokan industri yang semakin ketat. Berikut adalah beberapa faktor pemicunya:

  • Teknologi Hijau: Permintaan panel surya dan baterai kendaraan listrik membutuhkan perak dalam jumlah besar.
  • Defisit Pasokan: Produksi pertambangan global belum mampu mengimbangi kecepatan konsumsi industri di tahun 2026.
  • Hedge Inflasi: Investor ritel kini melihat perak sebagai alternatif “emas murah” yang memiliki potensi keuntungan persentase lebih tinggi.

Vawda melihat adanya potensi pergerakan harga menuju US$ 90 hingga US$ 100 dalam waktu dekat. Indikator utama yang ia gunakan adalah rasio emas terhadap perak yang terus menyempit. Secara historis, jika rasio ini mengecil, artinya perak sedang melakukan aksi “mengejar” ketertinggalan terhadap emas.

Secara persentase, perak seringkali memberikan keuntungan yang lebih agresif dibandingkan emas saat terjadi gejolak ekonomi. Dengan kondisi geopolitik yang makin panas dan melemahnya dolar, perak kini bukan lagi sekadar pilihan kedua. Logam ini telah bertransformasi menjadi aset pelindung nilai yang sangat menguntungkan bagi para spekulan maupun investor jangka panjang. Itulah beberapa dari Harga Emas.