
BI Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh pada 2026
BI Optimisme Kuat Terhadap Prospek Perekonomian Indonesia Pada Tahun 2026 Meskipun Di Hadapkan Sejumlah Tantangan Global Dan Domestik. Hal ini disampaikan saat peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 yang mengangkat tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” di kantor pusat BI, Jakarta Pusat pada Rabu (28/1/2026).
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa optimisme ini bukan tanpa dasar. Ia menilai struktur ekonomi domestik semakin kuat dan mampu meredam gejolak eksternal. BI bahkan memproyeksikan ekonomi nasional tumbuh di rentang 4,9–5,7 persen pada 2026, dengan titik tengah sekitar 5,3 persen. Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa perekonomian akan terus menunjukkan momentum positif setelah pulih dari dampak pandemi dan tantangan global yang masih berlangsung.
Faktor Pendukung Pertumbuhan BI
- Cadangan Devisa yang Kuat
Salah satu indikator yang menjadi dasar keyakinan BI adalah posisi cadangan devisa Indonesia yang masih sehat. Pada akhir Desember 2025, cadangan devisa tercatat sebesar USD 156,5 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024. Jumlah ini setara dengan pembiayaan sekitar 6,4 bulan impor dan juga pembayaran utang LN (luar negeri) pemerintah.
Cadangan devisa yang kuat memberikan ruang stabilisasi nilai tukar rupiah serta dukungan untuk pembiayaan kebutuhan luar negeri. Sehingga menjadi bantalan penting saat menghadapi tekanan eksternal.
- Inflasi Terkendali
Selain itu, BI menegaskan komitmen untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada kisaran target 2,5 ± 1 persen selama 2026–2027. Kendali inflasi yang baik akan membantu menjaga daya beli masyarakat, menstabilkan kondisi pasar. Dan memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Stabilnya inflasi kini juga tercermin dari tren inflasi yang rendah dalam beberapa waktu terakhir. Tren tersebut memberikan BI peluang untuk mengarahkan kebijakan suku bunga yang mendukung pertumbuhan. Dengan BI Rate yang sudah turun sejumlah lima kali sepanjang 2025 menjadi 4,75 persen pada akhir tahun lalu.
3. Pertumbuhan Kredit dan Digitalisasi
Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan mencapai kisaran 8–12 persen pada 2026. Yang merupakan indikator penting aktivitas ekonomi domestik. Pertumbuhan kredit yang sehat menunjukkan bahwa sektor usaha dan konsumen tetap memiliki akses pembiayaan untuk ekspansi dan konsumsi barang atau jasa.
Selain itu, BI menargetkan penggunaan pembayaran digital melalui QRIS mencapai 17 miliar transaksi pada 2026, dengan 60 juta pengguna, di mana sekitar 45 juta di antaranya adalah pelaku UMKM. Perluasan penggunaan QRIS tidak hanya di dalam negeri tetapi juga secara lintas negara (termasuk Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea, India, dan Arab Saudi). Menjadi bagian dari strategi digitalisasi ekonomi yang dapat memperluas inklusi keuangan dan efisiensi transaksi.
Strategi Kebijakan BI untuk Mendukung Pertumbuhan
Untuk memastikan proyeksi tersebut tercapai, BI akan terus melanjutkan bauran kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas. Beberapa langkah kunci yang diutarakan dalam laporan antara lain:
- Kebijakan makroprudensial lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan kredit dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
- Insentif likuiditas makroprudensial di tingkatkan untuk memperkuat penyaluran pembiayaan ke sektor prioritas.
- Fleksibilitas kebijakan moneter, termasuk potensi penurunan lebih lanjut BI Rate sejalan dengan kondisi inflasi dan kebutuhan pertumbuhan.
- Insentif likuiditas makroprudensial yang telah di berikan hingga akhir 2025 sejumlah Rp 388,06 triliun merupakan contoh nyata komitmen BI dalam memperkuat kapasitas pembiayaan domestik.
Sinergi dengan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan
Perry Warjiyo menekankan bahwa sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah, sektor perbankan. Serta pelaku usaha menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter di harapkan semakin kuat untuk menavigasi potensi risiko global, terutama ketidakpastian ekonomi dunia yang masih berlanjut.
Tantangan dan Waspada Risiko
Meski optimistis, BI juga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi global, kondisi pasar keuangan yang fluktuatif, serta ketidakpastian geopolitik.