
Ricuh! Ribuan Pelamar Kerja Teriak Dan Pingsan Di Jobfair Bekasi
Ricuh Suasana Yang Awalnya Penuh Harapan Berubah Menjadi Kepanikan Massal Job Fair Yang Diselenggarakan Di GOR Patriot Candrabhaga. Senin pagi, mendadak ricuh. Ribuan pencari kerja memadati lokasi sejak subuh, namun keterbatasan kapasitas dan buruknya pengelolaan membuat situasi tak terkendali. Tak sedikit pelamar yang berteriak histeris hingga jatuh pingsan akibat desak-desakan dan kelelahan.
Menurut pantauan langsung di lokasi, antrean mulai mengular sejak pukul 03.00 dini hari. Para pelamar datang dari berbagai wilayah Jabodetabek, bahkan ada yang berasal dari luar provinsi. “Saya naik kereta dari Cirebon malam tadi. Sudah dua tahun menganggur,” ujar Andini (27), salah satu pelamar yang sempat mengalami sesak napas akibat kerumunan.
Kegiatan job fair ini sejatinya di gelar untuk membuka 10.000 lowongan dari lebih dari 100 perusahaan. Namun, data panitia menyebutkan jumlah pengunjung yang hadir menembus angka 35.000 orang hanya dalam setengah hari. Kepanikan mulai terjadi ketika sebagian besar pelamar tidak kebagian tiket antrean masuk. Puluhan orang di laporkan tumbang akibat kelelahan dan kepanasan. Petugas medis kewalahan. Satu ambulans bahkan sempat tertahan karena akses keluar-masuk yang tertutup massa Ricuh.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bekasi, Yuni Arisanty, mengakui adanya kelalaian dalam manajemen acara. “Kami tidak menyangka antusiasme sebesar ini. Panitia akan melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya dalam konferensi pers singkat. Namun, pernyataan ini tidak cukup meredakan kekecewaan para pelamar. Beberapa bahkan sempat mengamuk dan melemparkan botol air ke arah pagar panitia.
Kericuhan ini menjadi sorotan tajam terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama sektor ketenagakerjaan. Tingginya angka pencari kerja yang membludak dalam satu acara job fair memperlihatkan fakta di lapangan: masih banyak warga usia produktif yang belum terserap dunia kerja Ricuh.
Mayoritas Tanggapan Bernada Kecewa
Peristiwa ricuhnya job fair di Bekasi memantik beragam reaksi dari masyarakat luas, baik di dunia nyata maupun di jagat media sosial. Mayoritas Tanggapan Bernada Kecewa, prihatin, sekaligus geram terhadap realita dunia kerja di Indonesia yang di nilai makin sulit di akses oleh generasi muda dan pencari kerja umum.
Di media sosial, khususnya X (dulu Twitter) dan Instagram, tagar #JobFairBekasi, #CariKerjaSulit, dan #EkonomiNyata sempat menjadi trending topik. Banyak warganet mengunggah video kericuhan, antrean yang tak berujung, hingga momen saat para pelamar kerja pingsan karena berdesak-desakan. Salah satu video yang memperlihatkan seorang perempuan muda menangis karena gagal masuk area job fair telah di tonton lebih dari 3 juta kali dalam 24 jam.
“Ini bukan sekadar soal ricuh. Ini cermin nyata bahwa rakyat lagi susah cari kerja, tapi pemerintah sibuk merayakan pencapaian ekonomi di atas kertas,” tulis akun @politiknusantara.
Sementara itu, beberapa warganet lain menyoroti buruknya manajemen acara. “Acara besar tapi nggak siap infrastruktur, nggak punya manajemen kerumunan yang baik. Ini bisa-bisa makan korban lebih banyak kalau di biarkan,” kata akun @realitasbekasi.
Di sisi lain, warga sekitar lokasi job fair juga menyuarakan keresahan. Mereka mengaku terganggu dengan membludaknya massa dan macet total yang melumpuhkan akses jalan. “Semua jalan di tutup orang-orang yang datang cari kerja. Tapi sayangnya malah jadi kayak kerusuhan,” ujar Pak Ahmad, pedagang di sekitar GOR Patriot, kepada media lokal.
Beberapa tokoh publik turut angkat suara. Aktivis sosial Tsamara Amany menulis, “Kericuhan job fair Bekasi bukan hanya soal panitia yang tidak siap. Tapi tentang bagaimana lapangan kerja hari ini tidak mampu menampung harapan jutaan rakyat. Ini alarm serius.”
Ricuh Nya Job Fair Di Bekasi Pada Awal Juni 2025 Telah Menyisakan Luka Dan Trauma Bagi Ribuan Pencari Kerja
Ricuh Nya Job Fair Di Bekasi Pada Awal Juni 2025 Telah Menyisakan Luka Dan Trauma Bagi Ribuan Pencari Kerja, tetapi juga menjadi cerminan nyata dari persoalan ketenagakerjaan di Indonesia. Antrean sejak dini hari, puluhan pelamar yang pingsan, hingga membludaknya jumlah peserta yang melebihi kapasitas, menyiratkan satu hal: jumlah pencari kerja di Indonesia masih sangat tinggi, sementara lapangan kerja yang tersedia belum cukup untuk menyerapnya.
Fakta bahwa lebih dari 30 ribu orang hadir dalam satu event lowongan kerja – dengan hanya sekitar 10 ribu posisi yang ditawarkan – menunjukkan kesenjangan besar antara harapan dan realitas. Ini menjadi indikator jelas bahwa kondisi ketenagakerjaan kita sedang tidak sehat. Fenomena ini di perparah oleh tingginya jumlah lulusan pendidikan menengah dan tinggi setiap tahunnya, yang belum di imbangi oleh pertumbuhan sektor industri, manufaktur, maupun sektor digital yang mampu menciptakan pekerjaan skala besar.
Apakah ini berarti ekonomi Indonesia sedang lesu? Tidak sepenuhnya, namun situasinya patut di waspadai. Pemerintah memang mencatat pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,2% pada kuartal pertama 2025. Namun, pertumbuhan tersebut belum merata. Banyak sektor yang tumbuh pesat, seperti digital, finansial, dan pertambangan, justru tidak menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sebaliknya, sektor-sektor padat karya seperti tekstil, konstruksi, dan manufaktur masih menghadapi tekanan global, efisiensi produksi, dan pemangkasan karyawan akibat otomatisasi.
Dengan kata lain, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif – ekonomi tumbuh, tetapi tidak di ikuti dengan peningkatan kesejahteraan dan peluang kerja yang cukup luas. Ini bisa menjadi bom waktu sosial jika tidak di tangani serius. Kondisi di lapangan seperti yang terlihat di Bekasi seharusnya menjadi peringatan dini bagi pembuat kebijakan.
Pemerintah Merespons Kericuhan Yang Terjadi Pada Job Fair Di Bekasi Dengan Pernyataan Permintaan Maaf Dan Janji Untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh
Pemerintah Merespons Kericuhan Yang Terjadi Pada Job Fair Di Bekasi Dengan Pernyataan Permintaan Maaf Dan Janji Untuk Melakukan Evaluasi Menyeluruh. Melalui Kementerian Ketenagakerjaan dan Pemerintah Kota Bekasi, pemerintah mengakui bahwa peristiwa tersebut mencerminkan adanya kelemahan dalam perencanaan dan manajemen teknis pelaksanaan acara. Namun lebih dari itu, peristiwa ini juga mengungkap tantangan serius yang masih di hadapi dalam sektor ketenagakerjaan nasional.
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan penyelenggara untuk mengevaluasi prosedur pelaksanaan job fair. “Kami prihatin atas insiden di Bekasi. Kami berkomitmen memperbaiki sistem penyelenggaraan job fair, baik dari sisi teknis, keamanan, maupun kapasitas di gitalisasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Pemerintah Kota Bekasi melalui Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Yuni Arisanty, juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menyangka antusiasme akan sebesar itu. “Kami akan menyesuaikan skala acara ke depan dan menyiapkan alternatif di gital agar pelamar kerja tidak harus datang secara fisik dalam jumlah besar,” ungkapnya dalam konferensi pers.
Menanggapi fenomena ini, Presiden Joko Widodo melalui juru bicara kepresidenan menyampaikan bahwa insiden di Bekasi menjadi masukan penting untuk pembenahan sektor ketenagakerjaan. Presiden di sebut telah memerintahkan Kementerian Ketenagakerjaan untuk mempercepat program pelatihan vokasi, memperluas akses pencarian kerja berbasis di gital, serta mendorong investasi yang menciptakan lapangan kerja di sektor riil Ricuh.