Dolar AS Di Ramalkan Akan Runtuh, Bernasib Dengan Inggris
Dolar AS Di Ramalkan Akan Runtuh, Bernasib Dengan Inggris

Dolar AS Di Ramalkan Akan Runtuh, Bernasib Dengan Inggris Tentu Sangat Tidak Masuk Akal Jika Berpikir Dominasi Global Mereka Berakhir. Di dalam perkiraan runtuhnya Dolar AS dan perbandingannya dengan nasib Inggris sering kali di dasarkan pada di namika ekonomi global. Bahkan perubahan kekuatan geopolitik dan faktor-faktor fundamental ekonomi. Meski banyak analis dan ekonom memperdebatkan berbagai skenario. Sehingga juga sangat penting untuk memahami konteks sejarah dan kondisi saat ini. Maka dolar AS telah menjadi mata uang cadangan utama dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II. Bahkan posisi ini di dukung oleh kekuatan ekonomi, militer, dan di plomatik AS.

Namun, Inggris pernah mengalami situasi yang mirip ketika Pound Sterling menjadi mata uang cadangan global selama abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah Perang Dunia II, ekonomi Inggris melemah dan Pound Sterling kehilangan statusnya seiring dengan kebangkitan Dolar AS. Saat ini, berbagai faktor mempengaruhi posisi Dolar AS. Dan meningkatnya utang nasional defisit perdagangan yang terus-menerus dan kebijakan moneter yang ekspansif membuat beberapa pihak khawatir akan penurunan nilai Dolar. Selain itu tantangan geopolitik, seperti ketegangan dengan China dan Rusia serta upaya beberapa negara. Di mana untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar.

Seperti halnya Inggris di masa lalu, beberapa pihak berpendapat bahwa AS menghadapi tantangan yang serupa dengan kemungkinan runtuhnya Dolar sebagai mata uang cadangan utama. Hal ini bisa di picu oleh hilangnya kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi AS atau munculnya alternatif lain, seperti Yuan China atau Euro. Namun, penting untuk di ingat bahwa meskipun terdapat tantangan signifikan, Dolar AS masih memegang peranan penting dalam sistem keuangan global. Dan sebagian besar perdagangan internasional masih di lakukan dalam Dolar. Dan banyak negara menyimpan cadangan devisa mereka dalam bentuk Dolar. Selain itu, pasar keuangan AS yang dalam dan likuid memberikan keuntungan yang signifikan bagi Dolar.

Nilai Tukar Dolar AS Ke Indonesia

Kemudian dengan suatu bentuk Nilai Tukar Dolar AS Ke Indonesia (IDR) merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan kekuatan ekonomi kedua negara serta di namika global. Dan pergerakan nilai tukar ini di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi fundamental ekonomi, kebijakan moneter, maupun kondisi geopolitik. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi nilai tukar USD terhadap IDR meliputi.

Di pertumbuhan ekonomi, inflasi dan tingkat suku bunga di AS dan Indonesia mempengaruhi nilai tukar. Ketika ekonomi AS menguat atau Federal Reserve (bank sentral AS) menaikkan suku bunga, Bahkan dolar cenderung menguat karena investor global mencari imbal hasil yang lebih tinggi di AS. Sebaliknya, jika ekonomi Indonesia tumbuh kuat, ini bisa memperkuat Rupiah. Bahkan kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve memainkan peran penting. Misalnya jika BI menaikkan suku bunga, hal ini bisa menarik lebih banyak investasi asing, yang akan memperkuat Rupiah.

Lalu sebaliknya, pelonggaran moneter oleh BI bisa melemahkan Rupiah. Kemudian defisit atau surplus dalam neraca perdagangan Indonesia juga berpengaruh. Maka jika Indonesia memiliki defisit perdagangan besar permintaan Dolar untuk membayar impor bisa meningkat, melemahkan Rupiah. Sebaliknya surplus perdagangan bisa memperkuat Rupiah. Dan ketidakpastian global, seperti konflik geopolitik atau krisis keuangan sering kali membuat investor beralih ke mata uang “safe haven” seperti Dolar, yang bisa memperlemah Rupiah. Selain itu, sentimen pasar terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia juga berperan.

Mata Uang Inggris

Maka dengan ini tentu sebagai Mata Uang Inggris, di kenal sebagai Pound Sterling (GBP), adalah salah satu mata uang tertua dan paling berpengaruh di dunia. Lalu Pound Sterling telah di gunakan sejak lebih dari 1.200 tahun yang lalu dan masih menjadi simbol kekuatan ekonomi dan finansial Inggris. Dalam konteks sejarah, ekonomi global, dan dinamika moneter, Pound Sterling memainkan peran penting dan memiliki dampak yang luas baik di Inggris maupun di seluruh dunia.

Kemudian Pound Sterling pertama kali diperkenalkan pada tahun 775 Masehi, ketika Raja Offa dari Mercia, salah satu kerajaan Anglo-Saxon menciptakan mata uang berbasis koin yang setara dengan satu pound perak. Bahkan nama “pound” berasal dari kata Latin libra, yang berarti timbangan atau keseimbangan. Dan mata uang ini secara resmi mulai di gunakan secara luas di seluruh Inggris pada abad ke-12 dan sejak itu menjadi fondasi sistem moneter Inggris. Pada abad ke-19, selama puncak kejayaan Kekaisaran Britania, Pound Sterling menjadi mata uang cadangan global. Sehingga inggris, sebagai kekuatan ekonomi terdepan mendominasi perdagangan internasional dan banyak negara menggunakan Pound sebagai standar dalam transaksi internasional. Lalu mata uang ini juga didukung oleh standar emas. Di mana nilai Pound terkait langsung dengan sejumlah emas tertentu.

Namun, setelah Perang Dunia I dan II, ekonomi Inggris melemah dan posisi Pound sebagai mata uang. Pada tahun 1944. Setelah Perjanjian Bretton Woods, Dolar AS menggantikan Pound Sterling sebagai mata uang utama dunia. Meski demikian, Pound tetap menjadi salah satu mata uang paling penting di dunia hingga hari ini. Saat ini, Pound Sterling adalah mata uang resmi dari Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Bahkan juga serta beberapa wilayah luar negeri Inggris. Sehingga mata uang ini terdiri dari berbagai denominasi, termasuk koin dan uang kertas, dengan Bank of England sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas penerbitannya. Namun Bank of England, didirikan pada tahun 1694.

Dinamika Saat Ini

Oleh karena itu Dolar AS (USD) adalah mata uang yang dominan dalam ekonomi global, namun Dinamika Saat Ini menunjukkan adanya tantangan signifikan yang dapat mempengaruhi posisinya. Bahkan beberapa faktor kunci yang berperan dalam dinamika ini mencakup kebijakan moneter AS. Kemudian kondisi ekonomi global, pergeseran geopolitik, dan perubahan dalam perdagangan internasional.

Sebab dengan Federal Reserve (The Fed), sebagai bank sentral AS memiliki pengaruh besar terhadap nilai Dolar melalui kebijakan moneter. Selama pandemi COVID-19, The Fed menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar, termasuk suku bunga rendah. Dan juga program pembelian aset besar-besaran (quantitative easing). Meskipun langkah ini membantu mendukung ekonomi selama krisis, hal ini juga berkontribusi pada peningkatan inflasi di AS. Maka untuk mengatasi inflasi yang meningkat, The Fed mulai menaikkan suku bunga pada tahun 2022. Dan pada gilirannya memperkuat Dolar karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi di AS.

Namun kebijakan pengetatan moneter ini juga memicu kekhawatiran tentang potensi resesi. Jika ekonomi AS melambat tajam, permintaan terhadap Dolar bisa menurun, dan mata uang ini mungkin menghadapi tekanan. Bahkan ketidakpastian global juga memengaruhi Dolar. Lalu ketegangan geopolitik, seperti perang di Ukraina dan konflik perdagangan antara AS dan China, menciptakan volatilitas di pasar global. Di saat ketidakpastian mngkat investor sering kali beralih ke Dolar sebagai aset safe haven, memperkuat nilainya. Maka ketegangan yang berkepanjangan dapat mengganggu perdagangan internasional dan mengurangi permintaan global terhadap Dolar AS.